Pada
saat saya memutuskan untuk masuk salah satu perguruan tinggi sekitar Desember
2013, saya memilih kampus swasta yang
kriterianya menurut saya lumayan bagus pada saat itu diantara kampus-kampus
lain yang masih berkembang terakreditasi BAN-PT dimana memberikan karakter yang dibutuhkan oleh dunia kerja dan
usaha, lebih murah dibanding kampus
bonafid pastinya hehe, memungkinkan mahasiswanya untuk dapat bekerja dan
mandiri selama kuliah itu yang terpenting karena saya kebetulan membiayai
kuliah sendiri so i must a profesional tapi saya berasumsi bahwa prioritas
kerja dan kuliah saya harus balance , i’m firm in holding to what i believe
adalah karena kebetulan saudara saya juga kuliah disana, dan kampus tersebut
menerapkan semi block system yang memungkinkan mahasiswanya dapat menyelesaikan
Program S1 dengan cepat.
Finally
saya memutuskan untuk bergabung dengan kampus tersebut i said yes without
thingking a long. Dan setelah saya melakukan pendaftaran dengan begitu
mudahnya, hanya menyertakan berkas-berkas dan pengisian formulir, bayar dan
langsung bisa diterima tanpa test, this is readily available here, padahal kalo
ga salah saya baca dibrosurnya itu ada testnya lo teman, test masuk, psikotes
& kemampuan dasar. Dan entah kenapa,
i’m not make an issue of that.
Kemudian
saya memulai kelas pada akhir januari 2014, saya termasuk angkatan 2014 tetapi
saya mengikuti kelas dengan angkatan 2013 yang pada saat itu sedang
berlangsung semester 2, the most
important things is then to go along with rules campus. Pada saat saya bertanya
pada pihak akademik but why? Kenapa begini, mereka menjawab, jadi seolah- olah
saya itu menabung nilai terlebih dahulu dibanding mahasiswa lain angkatan 2014.
Okeh itu jadi bahan pemikiran saya tapi masih saya tidak permasalahkan.
Pada
saat semester 6, sekitar akhir september saya dan kedua teman saya mengkukuhkan
niat untuk melanjutkan kuliah Magister diluar negri dengan opsi pertama mencari
beasiswa. Karena tidak ada yang tidak mungkin bagi saya, teman-teman saya, dan
kita semua didunia ini. Khususnya saya sendiri, because i’m not smart and not
rich but i believe in god dan berusaha pastinya. Mulai lah saya dengan rajin
mencari-cari info kesana sini, sempat saya dan kedua teman saya menghadiri participating
IDP’S Education Fair. Kami bertiga sempat berkecil hati juga karena Background
kampus kami tidak sebaik dan sebonafid itu. Yang menjadi pertanyaan saya kepada
pihak kampus sekarang adalah kapan saya skripsi, lulus, dan wisuda? Mereka
menjawab sesuai dengan NIMnya masing-masing. Sedih lah pokoknya karena saya
tidak akan lulus sama dengan angkatan 2013 donk, okay there’s nothing i can do
about it.
Badai
lengkap dengan angin tornado pun datang pada awal bulan Oktober ini, bahwasanya
kampus kami termasuk kampus yang telah dinonaktifkan oleh dikti jauh padahal
terjadi pada bulan maret tetapi kita semua baru mengetahuinya, seolah-olah
pihak kampus pun sengaja menutupinya,
bak kesambar petir .. tidak ada cara lain selain saya menerima bahwa
kebenarannya itu adalah kenyataan. Pihak kampus meminta mahasiswa untuk
menunggu sampai waktu yang belum bisa
ditentukan jelasnya, bagaimana keputusannya pengaktifasian lagi atau dibekukan,
bagaimana pertanggung jawabannya adalah apabila kampus sekarang dibekukan maka
mahasiswanya itu dikonversikan, kampus baru ditentukan oleh pihak kampus
sekarang dengan catatan perkuliahan tetap dilakukan ditempat tersebut.
Semuanya
kembali kepada dirinya masing-masing, disini saya hanya mempunyai dua pilihan, bertahan
sampai akhir atau mengulang dari awal. Kenapa mengulang dari awal bukannya
konversi, setelah saya tanyakan kebeberapa
kampus bahwa kampus tujuan tidak menerima pindahan dari kampus yang
akreditasinya C, sontak membuat saya tidak terlalu banyak bertanya lagi
kampusnya ajah ga diterima apalagi sksnya yaa mmm .., disamping itu data saya diforlap belum ada
sama sekali, lengkap sudah J ..
Mengingat
berbagai pertimbangan, pada akhirnya saya memutuskan bahwa saya akan mengulang
dari awal, karena ketika sudah kecewa, apapun yang baik akan tetap terlihat
buruk, itu semua kembali kepada keyakinan diri masing-masing, hati nurani
sendiri, kebanyakan orang bilang sayang lohh, ngapain, buat apa, coba fikirin
lagi, that’s right, saya berani mengambil resiko atas keputusan saya because i believe in my self and i responsible for my
future, i believe in my god, dan saya percaya sama mama papa saya. I’m very
grateful to my friends, to all those who have cared for me. Sedih merasa
dirugikan sih pasti, senang karena mungkin Allah punya rencana lebih baik dan
rugi juga biasa, asal bukan kita yang merugikan .. hehehe
Temen-temen,
kalo memang pindah kuliah itu jalan satu-satunya, oke deh. Itu keputusan kamukan?
But, promise yourself to never feel bad about it. Never look back because it’ll
probably hurt you. Tetep fokus aja sama apa yang kalian pengen.
Papa
mama saya jadi makin lebih santai untuk urusan kuliah saya, tapi saya me-manage
untuk tetep keukeuh sama tujuan saya, i want to change my fate into something better.
Maybe its not that better, but at least this is what i choose to be a better
person. Ahh, rasanya terdengar cukup neges dan melankolik. Saran saya berhati-hatilah pada saat teman-teman
akan memilih kampus, lebih teliti lagi. Okeh, sekian ya teman-teman berbagi pikiran
plus pandangannya, .. fighting, semoga Allah selalu meridhoi apapun keputusan
yang kita ambil ..





